Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antiplasmodium dari ekstrak fraksi kloroform akar pepaya gantung terhadap pertumbuhan Plasmodium falciparum secara in vitro. Ekstrak kloroform diperoleh melalui metode maserasi berkelanjutan dan dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan pelarut kloroform. Kultur P. falciparum strain 3D7 digunakan sebagai model uji, dan pengaruh ekstrak terhadap pertumbuhan parasit dievaluasi menggunakan metode HRP-2 (Histidine-Rich Protein-2) untuk menentukan IC50. Berbagai konsentrasi ekstrak (1, 5, 10, 25, dan 50 µg/mL) diuji dalam medium RPMI 1640 yang mengandung serum manusia. Kontrol positif menggunakan klorokuin, dan kontrol negatif tanpa perlakuan digunakan untuk membandingkan hasil.


Hasil Penelitian Farmasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak fraksi kloroform akar pepaya gantung memiliki aktivitas antiplasmodium yang signifikan. Konsentrasi ekstrak sebesar 10 µg/mL mampu menghambat pertumbuhan Plasmodium falciparum hingga 58%, sedangkan pada konsentrasi 50 µg/mL, penghambatan mencapai 92%. IC50 ekstrak dihitung sebesar 7,8 µg/mL, yang menunjukkan potensi kuat sebagai agen antiplasmodium. Sebagai pembanding, klorokuin menunjukkan IC50 sebesar 0,05 µg/mL.


Diskusi

Fraksi kloroform akar pepaya gantung menunjukkan aktivitas antiplasmodium yang menjanjikan, diduga karena kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, atau saponin yang terkandung dalam ekstrak tersebut. Mekanisme penghambatan kemungkinan melibatkan gangguan pada metabolisme heme atau membran sel parasit. Meskipun IC50 ekstrak lebih tinggi dibandingkan klorokuin, hasil ini tetap relevan dalam pengembangan terapi antimalaria alternatif, terutama mengingat meningkatnya resistensi terhadap obat antimalaria konvensional seperti klorokuin.


Implikasi Farmasi

Penemuan ini memberikan dasar ilmiah untuk pengembangan obat berbasis bahan alam dari akar pepaya gantung sebagai alternatif terapi antimalaria. Ekstrak ini dapat digunakan untuk formulasi awal dalam pengembangan obat atau sebagai bahan komplementer untuk meningkatkan efektivitas terapi antimalaria konvensional. Isolasi dan identifikasi senyawa aktif spesifik dari ekstrak kloroform menjadi langkah penting berikutnya dalam penelitian ini.


Interaksi Obat

Penggunaan ekstrak akar pepaya gantung dalam kombinasi dengan obat antimalaria konvensional harus diperhatikan, mengingat potensi interaksi senyawa aktif dengan mekanisme kerja obat lain. Studi farmakokinetik dan farmakodinamik lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana ekstrak ini dapat memengaruhi efektivitas atau toksisitas terapi kombinasi.


Pengaruh Kesehatan

Aktivitas antiplasmodium yang signifikan dari ekstrak ini memberikan harapan baru untuk pengelolaan malaria, terutama di daerah endemik dengan resistensi obat tinggi. Penggunaan bahan alam yang tersedia secara lokal seperti akar pepaya gantung dapat menjadi solusi efektif dan terjangkau, asalkan aman dan tidak menyebabkan efek samping yang merugikan pada pengguna.


Kesimpulan

Ekstrak fraksi kloroform akar pepaya gantung memiliki potensi sebagai agen antimalaria dengan daya hambat signifikan terhadap pertumbuhan Plasmodium falciparum secara in vitro. IC50 sebesar 7,8 µg/mL menunjukkan aktivitas yang relevan untuk pengembangan terapi berbasis bahan alam. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengisolasi senyawa aktif, mengevaluasi keamanan, dan mengembangkan formulasi farmasi yang sesuai untuk aplikasi klinis